Pelukan Rahasia

September 2016
Merasa beruntung di minggu lalu berkesempatan hadir mendampingi jalannya FBO (Forum Bincang Orangtua) di sekolah. Kali pertama kita berkumpul di awal tahun pendidikan ini dengan topik bahasan “1001 Ungkapan Sayang”. Topik yang mungkin diterima sebagai ringan saja untuk sebagian kita, bagi sebagian kita yang lain ditanggapi sebagai topik serius yang bisa jadi bahkan sedang jadi ruang pergulatan rasa. Untuk saya, dua jam itu menjadi momen spesial – lebih dari sekadar urusan mengelola kegiatan sekolah, karena dari situ saya mendapat kesempatan bersyukur yang indah.

Forum dibuka dengan pancingan paradoks terkait sayang yang di penerapan keseharian bisa bercabang dan berujung di dua situasi, yaitu sayang yang sebenarnya tak sayang dan yang seolah tak sayang padahal sayang. Pancingan mengena; curhat dari para orangtua muda ini mengalir. Ada yang menyampaikan kekhawatiran akan kecukupan ungkapan sayangnya kepada anak sampai ke penceritaan situasi dilematis atau konflik bathin saat berproses menjalaninya. Banyak cerita menarik saling dibagikan.

Sesuatu banget  mengikuti paparan dan sahut-sahutan para orangtua muda ini karena membawa saya pada kesadaran bahwa saya pernah ada di tahapan proses dan situasi mereka belasan tahun silam. Ruang kebingungan dan kekhawatiran, bertanya-tanya apakah bentuk-bentuk ungkapan sayang saya sudah tepat dan apakah betul berdampak baik untuk anak-anak saya? Beberapa bagian perbincangan begitu mengena dan kuat memanggil memori perjalanan saya sebagai orangtua.

Perbincangan dibuka cerita kesulitan seorang ibu dalam mengaturkan keluarga besar (terutama orangtua sendiri dan mertua) terkait terjemahan limpahan sayang mereka kepada cucunya dalam bentuk pemberian ini-itu dan pelonggaran di sana-sini untuk ‘aturan baku’ keluarga inti. Ini bisa disimpulkan lazim terjadi di banyak keluarga. Banyak yang hadir merespon dan merasa senasib-sepenanggungan, dan di beberapa situasi bahkan sudah berdampak pada  menjadi buruknya relasi dalam keluarga besar. Situsi kurang selarasnya orangtua dan keluarga besar dalam hal penanaman nilai dan aturan pada anak, alasannya sebenarnya sangat dapat pahami dan kita maklumi. Relasi dan kedekatan dengan cucu umumnya menjadi pengobat sepi para eyang di usia senjanya. Terkadang mereka ‘nekat’ sembunyi-sembunyi memberi atau memenuhi permintaan semata demi mencuri hati sang cucu kesayangan. Namun tidak semua eyang seperti itu juga ternyata. Satu ibu yang hadir berbagi sisinya sebagai nenek yang paham untuk selalu menyelaraskan cara dan pendekatan dengan aturan dan pola didik orangtua dari cucunya. Disampaikannya bahwa ayah dan ibu adalah pendidik utama dan dia sebagai nenek perlu membantu memastikan itu berjalan baik. Di keluarga besarnya sikap saling mendukung terbangun dengan baik. Sementara di kebanyakan kita, pengaturan masih senantiasa disesuaikan situasi atau kebutuhan masing-masing pihak sehingga lalu tak jelas lagi terbaca prinsip atau kebaikan sasarannya saat dijalankan. Dari alur obrolan, ada terungkap keinginan orangtua untuk dihargai haknya dalam ruang mendidik anaknya. Bahasan ditutup manis dengan fakta bahwa terlepas dari daftar panjang kritik yang bisa kita buat terkait cara atau perlakuan orangtua kita terhadap anak-anak kita, beliau-beliau ini lah yang mendidik dan membesarkan kita hingga menjadi diri kita seperti yang sekarang ini. Sejauh mengenali diri kita ini baik-baik saja, seharusnya mereka kita nilai cukup berhasil ya. Punya relasi yang baik dengan anak tentu menjadi harapan kita, dan tentunya juga harapan orangtua kita. Saat situasi terbaca rumit, mungkin kita coba memahami keseluruhan sisi situasinya dan ambil jalan paling optimal bagi semua pihak. Di situasi anak jadi kebingungan  menghadapi dua pendekatan yang jauh berbeda, waktunya untuk kita menjelaskan kepada anak dan orangtua kita tentang pandangan kita.

Ketika proses tak juga berjalan persis sesuai harapan, berdamai dengan situasi tampaknya jadi pilihan terbaik. Asal sudah diupayakan, proses yang tak ideal di mata kita tak mengapa dijalani saja. Hal ini yang saya terapkan juga dalam menyikapi dua keluarga besar kami. Menakjubkan saat mengenali anak secara bertahap berproses semakin mampu  mengolah ruang-ruang berbeda itu dengan bijak. Ya, keyakinan bahwa setiap anak membawa kebijaksanaan miliknya sendiri akan menghindarkan kita dari jerat rasa khawatir berlebihan.

Nah rampung satu obrolan, dilanjut penceritaan kegundahan seorang ibu muda dalam mendamping anaknya yang perlu disunat sebelum akil baliq karena alasan medis. Sang anak menolak dan ibu khawatir anak akan marah padanya jika tetap dijalankan. Dua ibu lain menanggapi dan berbagi tips seputar pengalaman serupa. Intinya sampaikan dengan jujur situasinya, dan yakinkan bahwa kita akan mendampinginya menjalani proses dan rasa sakitnya. Obrolan pergulatan rasa seorang ibu terkait meja operasi membawa saya kembali ke babakan perjalanan kami ketika putri saya di usia empat bulan, harus menjalani tindakan operasi untuk mengoreksi kelainan jantung bawaan.

Masih lekat di ingatan ini setiap tahapannya; terasa begitu gamang dan rasanya terlalu berat untuk bisa kami jalani. Namun setelah dilalui, titik-titik kelanjutan prosesnya ternyata berjalan sedemikian baiknya. Si bayi mungil yang dioperasi itu bertumbuh sehat. Saat kesempurnaan penampilan biasanya menjadi kejaran para gadis remaja, dia teramati tenang-tenang saja garis vertikal bekas luka operasi di dadanya. Saat padanya ditawarkan operasi plastik untuk menyamarkan torehan bekas operasinya itu, dengan gaya khasnya yang tenang dijawabnya biarlah tanda itu tetap menjadi miliknya-bagian dari dirinya, agar ia selalu bisa ingat dan bersyukur atas kesempatan hidup yang ia dapatkan. Dahsyatnya hati ini bergetar menerima inti pembelajaran hidup yang ia bagikan. Tingkat kesiapan dan kebijaksaaan anak ini lebih tinggi dibanding ibunya!

Kilas balik perjalanan saya sebagai orangtua lanjut terbantu oleh cerita satu ibu yang mencemaskan rasa kehilangan saat sejalan pertambahan usianya anak sudah mulai jengah dan menolak untuk dipeluk. Anaknya ini belum lagi tuntas melewati tahapan usia tujuh tahun pertamanya; dan saya tersadarkan dan merasa bahagia atas kemewahan yang saya masih bisa nikmati seputar memeluk dan dipeluk. Anak bujang saya yang kini duduk di jenjang SMA, masih menciptakan momen-momen khusus. Saat ‘situasi aman’-tak ada kehadiran pihak lain, ia suka mendatangi saya untuk menghadiahkan pelukan erat. Tanpa terucap kata – hanya beradu pandang sekilas dan saling bertukar senyum; begitu kuat menjalar sejuta kehangatan yang manis ke setiap relung diri ini. Momen spesial itu adalah rahasia kita berdua, hanya antara saya dan dia. Di hadapan orang lain apalagi teman-temannya, ia giat membangun citra dirinya sebagai remaja independen-kuat-mandiri selayaknya remaja putra seusianya.

Memandang sosok si bujang yang kini sudah tinggi menjulang dengan pembawaannya yang khas dan semakin mendewasa, saya teringat perjalanan semasa ia kecil dimana saya kerap bertanya-tanya akan cara saya mendidik, sudah kah tepat dan baik untuknya? Bagian ingatan ini yang terangkat saat ibu di pertemuan itu bercerita tentang konflik batin yang ia rasakan terkait urusan mendisplinkan anaknya yang memakai cara tantrum demi keinginannya dipenuhi. Saya pun teringat kejadian sekitar sepuluh tahun silam, ketika di pagi itu kami terpaksa meninggalkan si bungsu setelah berhari-hari ia terus berlama-lama saat diajak bersiap berangkat sekolah. Di hari itu kami memutuskan untuk meninggalkannya sesuai kesepakatan yang sudah disampiaiakan semalam sebelumnya. Jujur, hampir tak kuat hati menyaksikan ia berlari mengejar mobil yang sudah maju perlahan sambil menangis memelas minta diperbolehkan ikut. Saya di dalam mobil pun duduk menangis dengan hati perih tak terperi, menguat-nguatkan diri untuk tidak turun dan berlari memeluknya yang menangis di balik pagar sambil menyeret tas ransel yang belum sempat disandangnya. Di titik itu ingin rasanya memberikan pemahaman dan kesempatan untuknya sekali lagi saja seperti hari-hari kemarinnya. Hari itu pun menjadi hari kerja yang paling tidak produktif sepanjang hidup saya karena hati saya tertinggal di rumah bersamanya. Gundah gulana dan merana. Malam harinya, di tengah senyapnya suasana, hanya berdua dengannya di kamarnya, kami sudahi hari buruk dengan saling menyatakan sesal setulus hati untuk apa yang terjadi. Lalu kami saling mengungkap harapan untuk proses ke depan yang lebih baik. Pelukan dan dekapan erat memastikan semua rasa janggal dan sesal tersapu bersih, hapus. Kekhawatiran akan dampak buruk dari keputusan atas cara ‘berisiko tinggi’ itu syukurlah tidak terjadi; sejak hari itu si kecil paham pentingnya bersiap tanpa berlambat-lambat. Ia dapat melakukannya dengan baik, dan bangga bisa melakukannya.

Sungguh mengasyikkan dan mencerahkan mengikuti keseluruhan ulasan situasi dengan sudut pandang dan cara yang berbeda-beda satu dengan lain dari kita yang hadir. Saya dibawa menyadari dengan menilik kembali perjalanan panjang saya semenjak pertama kali menjadi ibu, yang mana itu hampir 20 tahun ini sudah berjalan. Wow, sungguh bukan waktu yang pendek, sekaligus mudah-mudahan bukan waktu yang panjang juga. Seperkenanan-Nya, saya berharap dikaruniai kesempatan dan berkah usia untuk lanjut belajar menjadi orangtua bagi kedua anak saya jauh ke depan. Ya, dua puluh tahun berjalan serasa baru kemarin, banyak memori masih segar dan dapat diingat sedemikian jelas detailnya. Seolah semua itu berlalu dalam waktu sekejap saja. Saat waktu terus berlalu, dan tiba saatnya dimana anak sudah dewasa dan kita sudah tidak sesibuk kini, besar kemungkinan kita akan sangat merindukan semua hal dan kerepotan yang sering kita keluhkan saat ini. Apa yang sekarang dirasa kesulitan atau bahkan beban, kelak akan didamba sapa dan kehadirannya. Semua hal – tak hanya yang manis-manis, mengkristal membentuk kumpulan memori indah penuh makna mendalam. 

Tiba di titik hari ini, saya tidak menganggap diri sukses menggarap semua sisi keorangtuaan saya. Saya merasa banyak luput di sana-sini, namun meyakini diri bahwa semua yang saya coba lakukan selalu bertujuan baik dan melibatkan upaya terbaik saya. Demikian makna rasa sayang ini saya coba sandingkan dengan pengenalan akan keterbatasan diri saya. Artinya tak tertutup kemungkinan ternyata hasilnya meleset atau dianggap tidak tepat. Berkeyakinan anak-anak membawa kebijaksanaannya sendiri; mereka sendiri lah yang akan lanjut menggenapi prosesnya. Mereka akan terus maju menapaki perjalanan hidup miliknya yang akan dan harus mereka tempuh. Kenyataannya, banyak kekhawatiran sisi kita sebagai orangtua yang tak terjadi. Sebaliknya tak sedikit hal baik menakjubkan yang mewujud dalam bentuk kedirian anak-anak yang jauh di luar bayangan semula bahwa itu bisa terjadi dan berkembang pada diri mereka. Pengenalan sisi ini kian hari semakin membangun optimisme bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Mereka inti dan keberadaan kita relatif saja.

Di penutup forum pertemuan kemarin itu, Pak Adil wakil dari Dinas Pendidikan yang sudah kampium menjalani peran orangtua bagi kedua anaknya yang kini sudah dewasa dan menjadi dokter spesialis, berbagi rahasia pengunci kebaikan proses menjadi orangtua kepada kita yang hadir. Ia menyatakan ayah dan ibu bekerja tidak menjadi alasan atau pembenaran untuk anak tidak mendapatkan kasih sayang orangtuanya. Hal ini jitu mematahkan argumen waktu yang semakin langka dan kesibukan tinggi sebagai ruang berkilah kita para orangtua di seretan kesibukan abad modern ini. Beliau juga menyampaikan, jika orangtua ingin anaknya berubah, maka orangtua harus berubah. Teori ini tampak sederhana dan mudah, namun pelaksanaannya tentu beda sisi cerita…

Di akhir pertemuan itu kita pun bersepakat tak ada satu resep jitu untuk setiap persoalan kita. Apa yang jitu atau efektif bagi satu orangtua tak otomatis cocok untuk yang lain, begitu pun sebaliknya. Memang kembali harus kita sendiri yang mengolah dan memutuskan semuanya dengan mempertimbangkan situasi spesifik kita. Ungkapan “seninya menjadi orangtua” menjelaskan tak ada satu panduan baku yang menjamin kesuksesan. Lebih tepat bersikap mensyukuri dan menjalani saja dengan sebaik-baiknya dan selalu berpegang pada tujuan baiknya, berterima dengan situasi riil di depan mata meski seringkali dirasa jauh dari ideal, dan ingat untuk selalu menikmati perjalanannya! “… juga jangan lupa untuk berdoa mohon bimbingan dan penjagaan-Nya,” tambah satu ibu dengan senyuman termanisnya.

Ya begitulah situasinya. Lagian, siapa juga yang suruh jadi orangtua, ya kaaan? Namun, siapa pula yang menyangkal berkah dari-Nya yang memberi kita hadiah tak ternilai harganya dengan menjadikan kita orangtua bagi anak-anak kita ini.

… mencoba bersyukur untuk segalanya, tanpa tapi, tanpa syarat.

 


April 2018 – lanjutan cerita perjalanan

Sembilan menuju sepuluh bulan sudah, jarak sejauh 11,144 km terbentang antara saya dengan si sulung; kami kini tak lagi bersama. Keinginannya untuk berkelana dan menjajal kemampuan hidup mandiri membawanya pada keputusan besar untuk menjalani kehidupannya sendiri di belahan bumi lain di usianya yang ke dua puluh. Ia pun mantap lebih memilih ‘jalan sulit’ dengan bekerja dan tinggal di keluarga asing nyambi kegiatan belajar, dibandingkan tawaran jalan mudah untuk dibiayai kuliah dan tinggal bersama kerabat dekat di sana. Ya itu lah dia, gadis pejuang. Sudah terbaca ketangguhannya dari cerita perjuangannya saat dia masih sesosok bayi mungil 4 bulan bertarung nyawa di meja operasi. Dan ia baik-baik saja, bahagia menjalani kehidupan dan hari-harinya di negeri asing – meski tidak selalu mudah dan menyenangkan! Mengatur waktu dan energi untuk belajar sambil membantu mengurus dua anak kecil yang menjadi tanggungjawab pekerjaannya tentu bukan hal sederhana. Tapi juga bukan hal yang mustahil untuk tetap bisa dinikmati. Tinggal ibunya yang tak jemu menanti kontak darinya dan bahagia setiap kali telepon berdering, dan kita pun lalu bisa menghabisakan waktu berjam-jam berbincang dan bercanda, bertukar cerita tentang banyak hal. Jarak fisik tidak membuat relasi berjarak. Bahagia seorang ibu itu saat tahu dan bisa merasakan anakaya bahagia. 

Si bungsu pun sekarang ini, di usianya 17 tahun menuju 18 sedang di periode membuat satu keputusan besar untuk menentukan pilihan kehidupannya terkait hal besar yang menjadi mimpi dan mungkin panggilan hidupnya. Pemikiran-pemikiran besar yang ia sampaikan kini sering sudah di luar kapasitas saya untuk memahaminya secara baik dan utuh. Seolah ruang saya sudah terlalu kecil baginya, dan ia butuh wadah lebih besar yang bisa membuatnya berkembang dengan leluasa sesuai kebutuhan proses dia. Persiapan ia garap dalam gerakan dan olahan yang sebagian masih ia ulik dan simpan sendiri. Hanya disampaikannya paling lama dua tahun lagi ia pun kelak akan melanglang buana… Saat itu terjadi, saya akan melepasnya dengan doa dan restu. Mesti membayangkan hal itu rasa di hati ada terbawa berat dan galau juga. Karena saya tahu saya akan sangat merindukan satu hal darinya, yang akan hilang saat ia pergi jauh. Ya, pelukan rahasia itu, pastinya… 

… Anak-anak kita lahir dari kita, tapi bukan milik kita. Anak siap mendewasa, orangtua paham melepas. Kehidupannya adalah miliknya, dan bukan lah hak kita.

 

 

Advertisements

Berpikir (Demi) Sederhana

Tergelitik menanggapi satu pernyataan dilontar dalam forum berbagi hasil dan proses workshop membuat buku cerita bergambar di cakupan tim Guru tadi sore, “…Refleksi yang paling jleb (jero, dalem) menurut saya adalah, saat membuat cerita untuk anak, orang dewasa kerap membuat segala sesuatunya menjadi rumit, semua dipikir. Padahal menurut kak Wiwit, tidak semua hal (ide cerita) harus dipikir. Tidak semua hal harus ada alasannya.  Kuncinya adalah kita mencoba melihat dari sudut pandang anak, apa yang akan dipikirkan dan dirasakan anak ketika melihat dan mendengar cerita yang kita buat…” Petikan ini adalah bagian dari refleksi Kak Agni lewat satu tulisannya yang bernas.

Secara umum-secara konteks besarnya, saya cenderung bersetuju dengan pernyataan itu. Namun saat bicara dan berolah peran-fungsi secara khusus dalam konteks dunia anak dan pendidikan, baik sebagai Guru mau pun sebagai orangtua, saya punya pendapat dan argumen berbeda yang dapat dipandang sebagai ragi-pengembang diskusi lanjutannya.

Terkait proses membuat buku anak yang tadi sore dibahas, dan bahkan saat kita berkomunikasi dengan anak di keseharian, muncul satu pertanyaan. Sudah tepat kah cara kita dalam upaya membangun pemahaman di anak yaiitu dengan cara berpikir sederhana, atau bagaimana?

Berpikir sederhana seturut pemahaman saya cenderung mengarah ke pola berpikir mudah(nya), berpikir praktis(nya), berpikir simplistik. Prosesnya adalah mengerucutkan atau menyortir bahan pertimbangan situasi dan sasaran penting ke jumlah minimal yang dianggap cukup, dan porsi bagian itu lah yang kemudian diolah menjadi hasil akhir. Besar kemungkinan terjadi, pertimbangan yang tersisihkan itu sebenarnya (sangat) penting. Sisi pertimbangan yang tidak bulat berpotensi menghantar pada hasil yang tidak optimal. Lawan dari berpikir sederhana adalah berpikir rumit, yang akan membawa pada proses sulit dan sama juga berujung pada hasil yang tidak optimal.

Di keseharian saya menangkap terjemahan dari berpikir sederhana ini misalnya kita bicara ke anak kecil dengan gaya bicara, tempo, dan pilihan kata menyerupai mereka. Kita para dewasa bicara seperti anak-anak karena berpikir mereka akan lebih mengerti saat kita bicara atau berlaku seturut mereka. Padahal itu tahapan proses tumbuh-kembang mereka yang sedang mematangkan kemampuan menyampaikan olah pikir dan rasa. Mereka sebenarnya bisa banyak belajar ketepatan pelafalan dan susunan kalimat yang membangun makna utuh dari cara kita bertutur padanya. Luput disadari di sini, yang terjadi adalah akomodasi sepenuhnya level kemampuan anak dan ruang belajar yang terabaikan. Ilustrasinya adalah kalimat pendek-pendek atau patah-patah tak lengkap unsur, tempo bicara dilambat-lambatkan dan intonasi yang dinaik-turunkan secara berlebihan. Di persepsi saya, saat kita bergerak menyamai cara mereka, seolah kita orang dewasa menggunakan baju anak-anak yang tentunya sudah tak lucu kita kenakan terkait postur dan ukuran tubuh kita yang memang sudah dewasa. Salah-salah lalu muncul kesan ke arah menolak proses mendewasa :). Menjaga jiwa kanak-kanak tetap hidup dalam diri kita para dewasa, sangat berbeda dari terjemahan bertingkah laku sebagaimana anak-anak.

Dalam proses memahami dan memfasilitasi dunia anak, saya berpendapat yang lebih tepat diterap bukan berpikir sederhana, melainkan upaya berpikir menyederhanakan. Dalam prosesnya, mutlak dibutuhkan kemampuan olah pikir luas-mendalam mencakupi penguasaan pemahaman akan situasi dan sasaran secara intensif-menyeluruh. Semua pemikiran perlu ada pijakan alasan baiknya: berlatar belakang dan bertujuan! Pola berpikir ini berciri luas pertimbangan untuk dapat memahami satu hal secara baik dan utuh sisi yang lalu diolah alias disederhanakan agar sesuai dengan serapan olah pikir anak yang masih sederhana tingkatannya (akan berkembang semakin utuh-menyeluruh sejalan usia mendewasa). Tujuan akhir penyederhanaan tentu agar inti pesan dapat terterima lebih utuh oleh anak. Yang terjadi di sini bukan penciutan esensi melainkan pemampatan sari-sarinya; inti-inti pentingnya tetap lah bulat dan utuh. Secara ilustrasi adalah kalimat pendek namun tetap lengkap unsur yang dituturkan secara jelas dan bernada wajar sehingga nyaman dicerna anak dan lalu membangun sisi pemahaman mereka. Berpikir demi menjadi sederhana, itu yang terjadi.

Ide tulisan ini dilontar secara spontan saja, semata untuk saya bisa lanjut berlatih berpikir menyederhanakan kesan kekompleksan seperti dihantar pertanyaan dan pernyatan di atas… Kemampuan berpikir menyederhanakan satu olahan kompleks (dan bukan berpikir sederhana!) ini juga mutlak dibutuhkan saat Guru membuat perencanaan program pembelajaran di kelas dan tentunya juga dalam olah penyusunan rapor. Kebutuhan akan pemahaman mendalam dan menyeluruh untuk sederet panjang aspek pembelajaran, dengan sasaran spesifik per jenjangnya, digenapi pemahaman tahapan perkembangan anak, dan didukung kemampuan penyampaian yang efektif, kesemuanya itu memastikan olah berpikir yang sifatnya kompleks-menyeluruh, sungguh sangat jauh dari harap-harap akan satu gelaran proses yang sederhana-mudah. Namun jika kesemua kapasitas itu dipunya Guru, hasilnya adalah program tepat sasaran yang nyaman-menyenangkan diikuti anak serta rapor utuh bacaan dan tajam analisis-simpulan perkembangan yang mudah dicerna orangtua karena terbaca sebagai lugas dan sederhana-tidak rumit.

IMG_20160827_013140_842.JPG

Penutup: Salah satu hasil karya buku anak yang dikemas dalam hantaran cerita berkesan sederhana ini saya yakini bukan hasil dari proses berpikir sederhana. Karena di balik balutan kesan kesahajaannya, karya buku itu untuk saya dahsyat menyimpan berjuta pesan dan makna yang manis menunggu dikuak para pembacanya. Sungguh ajaib sekaligus canggih!  Hanya lewat proses pengolahan kompleks-mendalam dan menyeluruh aspek lah kecanggihan itu dimungkinkan tersaji manis, utuh sisi, tanpa arogansi.  Apresiasi untuk proses dan hasil karya buku para Kakak di ketiga kelompok. Luar biasa indah proses kreasi dan apresiasi yang dibagikan. Teriring terimakasih yang spesial buat Bu Guru Ome  🙂

 

Pak Gani Relatif di Muka Rumahku

Pohon mahogani di muka rumahku yang kokoh menjulang gagah namun tetap kuat berkesan ramah itu hanyalah salah satu dari sederetan pohon sejenis yang berbaris rapi di area sekitar tempat tinggalku. Ditilik dari perawakannya, tidak ada hal yang secara signifikan berbeda padanya dibandingkan dengan kawanannya. Ia tampil dan hidup selayaknya sebatang pohon mahoni pada umumnya; tak lebih dan tak kurang. Dikenali dari ukuran besar dan tinggi batangnya, bentuk daun dan buahnya, manfaat bijinya, juga hal perjalanan siklus hidupnya yang mudah dikenali dari kerimbunan dan perubahan warna dedaunannya.

Namun di satu titik pengenalanku terhadapnya, ternyata ada satu kekhasan ciri semata miliknya, yang tetiba kusadari setelah sekian tahun ku nyaman hidup di bawah naungan kerindangannya. Bahwa ternyata, secara konsisten tanpa banyak sesumbar, pohon depan rumahku itu tercatat unik terkait satu hal. Ya, pohon mahoni depan rumahku memilih dan memutuskan titik waktunya sendiri dalam menjalani siklus hidupnya. Ia punya siklus yang berbeda titik waktu dengan seluruh pohon mahoni lainnya yang tampak kompak bersatu padu! Di saat semua pohon lain mulai sibuk menghias diri bertunaskan pucuk-pucuk daun muda nan segar usai periode getas meranggas, pohon mahoni depan rumahku baru mulai mengucap salam perpisahan dengan daun-daunnya, satu per satu dikecup lalu dilepaskannya dalam suasana khidmat penuh ucapan terimakasih. Jadi lah ada saat-saat pohon mahoni depan rumahku tampak sendirian merana meranggas dengan sebaran dedaunan kering berserak jalanan dalam radius tertentu di sekitaran batang kokohnya. Satu pemandangan mencolok  di antara pohon-pohon lain yang kompak bersolek hijau daun. Hal ini kerap mengusik kejengkelan bapak penyapu jalan yang lalu mengomeli  pohon mahoni depan rumahku yang merontokkan daunnya saat itu dan tidak sebelumnya sehingga membuat pak penyapu jalan menjadi direpotkan untuk periode waktu yang lebih panjang. Ya memang masa rontok yang berbeda itu berdampak pada pemunculan letup gemas-gemas pasrah terkait derita urusan sapu-menyapu. Pasalnya, jumlah rontokan daunnya itu memang sungguh aduhai sampai-sampai bisa terjadi belum kita beres menyapu tuntas satu halaman atau area, lokasi awal titik kita mulai menyapu sudah kembali tertutup dan harus disapu kembali akibat derasnya hujan daun yang berguguran. “Mengapa kau selalu terlambat satu langkah dan lalu menyusahkanku saja!” demikian bathin pak penyapu jalan mengeluh. Aku pun timbul simpati padanya dan ingin bersumbang solusi. Kuputuskan untuk menyapa dan bertanya langsung pada sang pohon mahoni depan rumahku saat kesempatan baik datang.

Jadi lah di satu pagi akhir pekan yang hangat berbalut suasana santai menyeret lambat-lambat, kudapat momen baik itu. Bersitatap dengan matanya yang bersorot lembut, aku pun bertanya padanya, “Pak Gani, mengapa Anda selalu terlambat dibanding yang lain? Anda bertunas di saat yang lain sudah berbunga. Anda berbunga di saat pohon lain sudah menggugurkan daunnya, Anda baru mulai meranggas sewaktu yang lain sudah kembali bertunas… Tak inginkah Anda bergerak sedikit lebih cepat sehingga bisa menyamai semua yang lain?”

Pohon mahoni depan rumahku tersenyum teduh dan menjawab lembut penuh keyakinan yang jauh dari kesan jumawa, “Aku tak pernah terlambat, teman. Aku berjalan di waktuku yang lebih cepat dari kawananku. Aku melangkah terlebih dahulu. Dan memutuskan menjadi berbeda bukan lah hal yang buruk. Berbeda titik waktu adalah pilihanku agar bisa kubagikan bayangan proses mereka ke depan. Saat mereka yang kini sedang bertunas melihatku meranggas, kuharap berkembang kesadaran bahwa daun-daun muda segar yang erat melekat di batang itu satu saat, satu hari nanti, dedaunan itu akan kuyu menguning lalu terlepas-berpisah seperti yang kualami saat ini. Situasiku saat ini akan menjadi situasi masa depan mereka… Dan kamu mengatakan aku terlambat, aku di belakang, karena kamu berdiri di sisi yang berbeda dengan arah gerak dan tujuanku. ‘Keterlambatanku’ hanya lah seturut pemahamanmu.”

Tercenung ku seketika, kuterima jelas pesan dari sesosok pohon mahoni depan rumahku itu. Bijak nian cara ia membagikan sisi bagaimana kita memandang dan menyadari sudut pandang kita bisa mengubah banyak hal, bahkan ke titik ekstrimnya. Apa yang  ‘dituduhkan’ padanya bahwa dia selalu terlambat dan menyusahkan, ternyata dia yang lebih dini mengawali. Dihantarnya aku ke pemahaman makna kata relatif. Pengertian maju atau mundur, depan atau belakang bisa seketika berganti persepsi. Posisi dan arah pergerakan satu hal bersifat relatif terhadap posisi di mana kita berdiri dan arah gerak kita.

Berbekal pemahaman baru, kisah pohon mahoni depan rumahku pun total berganti inti cerita; berbalik arah memunculkan sisi seberangnya. Ia beranjak dari penilaian inferior. Pohon mahoni depan rumahku sudah bertunas di saat semua temannya masih sedang berbunga. Sewaktu pohon lain baru mulai menggugurkan daunnya, buah-buah pohon mahoni depan rumahku sudah memecah dan menghasilkan ratusan kitiran indah yang turun berputar sebagai upayanya menyebar biji. Di saat semua pohon lain baru mulai memunculkan tunas pucuk-pucuk daun muda, pohon mahoni depan rumahku-sepohon diri, sudah usai mematangkan dedaunannya dan memasuki masa meranggas ditingkahi  dengan lambaian perpisahan dari daunnya satu demi satu turun genit berlenggok  ditingkah embusan angin.

Hal yang sebelumnya kupersepsikan ada di belakang kini berubah posisi dan dilihat sebagai ada di depan. Sebaliknya yang sempat dikatakan ada di depan bergeser jadi terbelakangkan. Di pikirku lalu muncul berdesak pemahaman relatif-relatif lainnya. Perihal jauh atau dekat itu relatif, dari titik mana acuannya? Persepsi mudah dan sulit itu juga relatif, bagi siapa dengan kapasitas seberapa? Penilaian besar atau kecil pun relatif, terhadap apa, dinilai oleh siapa? Kuingat kembali film “Horton Hears a Who” yang secara jitu menghantarkan penyadaran sisi bahwa selalu ada yang lebih besar dari yang dirasa besar, dan bahwa hal yang dianggap sangat kecil itu ternyata sangatlah penting. Menyusup perasaan takluk bahwa selalu ada yang lebih besar di saat rasa-rasa mampuku terus membesar-menggembung. Bertumbuh keyakinan untuk tidak berkecil hati di situasi banyak hal terasa begitu sulit dan menghimpit. Saat kita terbuka hati dan pikiran, selalu ada yang lebih besar dari kita, pun berlaku sebaliknya…

Lanjut menyelami lebih dalam pemahaman relatif ini, tampaknya untuk konsep benar-salah pun terterap demikian. Benar bisa berubah menjadi salah dan salah bisa bergeser posisi menjadi benar, tergantung dari sudut mana kita memandang dan juga pengenalan situasi spesifiknya. Pemahaman ini selanjutnya diharapkan dapat membawa kita lebih bersedia menerima perbedaan pendapat dan lebih mampu memahami situasi orang lain.

IMG_20160823_070133 (1).jpgBergayut tanya di olah lanjut pencarianku, benar kah benar itu relatif? Benar kah tak ada satu kebenaran yang benar-benar mutlak benar adanya? Adalah satu kebenaran absolut di dunia ini? Hm, kapan-kapan kala kesempatan baik menjelma, persoalan ini akan kutanyakan kepada Pak Gani-pohon mahogani di depan rumahku… Tumbuh yakin di hatiku dia punya jawaban untuk banyak pertanyaan, sejauh kita mau bertanya dan bersedia mendengarkan bisikan jawabnya, dalam hening…

 

 

ruang baru

kala menjejakkan langkah pertama memasuki ruang pengalaman baru dan melakukan satu hal untuk pertama kalinya, kerap menyembul paduan berbagai rasa di hati. mulai dari geliat gairah rasa ketertantangan dan antusiasme berjumpa kejutan-kejutan elok yang menanti sabar manis di kelokan jalan, disanding sisi ketakyakinan apakah kita berpunya segala kecukupan untuk terus hadir secara baik dalam segala dinamika proses di sepanjang perjalanannya. apakah kita akan menjadi lebih baik untuk diri, dan apakah betul kita paham menjaga kehadiran diri agar berdampak kebaikan bagi semua.

menguak cerita diri lewat kisah rasa dan cara pandang atas titik-titik yang mampir menyapa diri dan tertangkap pesannya, semoga bisa menghantar kita menyibak dan memahami rahasia dunia ini menjalani hidup, sedikit demi sedikit…

keberanian menjejak langkah pertama menjadi awal yang semoga membawa diri berkesempatan menguak  pemahaman-pemahaman baru. ajakan mendasar bagi diri ini: mari terus belajar…